Category Archives: Akuntansi Keuangan Menengah

Perbandingan PSAK Dengan IFRS Mengenai Aset Tetap

TOPIK

PSAK

IFRS

Pengakuan Aktiva tetap diakui sebesar biaya perolehan Sama
penentuan cost Biaya perolehan mencakup semua pengeluaran, termasuk administrasi dan pengeluaran overhead umum, langsung untuk membawa aset ke kondisi kerja bagi perusahaan dimaksudkan digunakan. Sama
Aktiva tetap disusutkan selama masa manfaat Sama
Tidak ada petunjuk khusus yang berhubungan dengan penyusutan suatu aset tetap peralatan yang idle dan aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual tidak disusutkan. Suatu aset tetap disusutkan meskipun aset tersebut idle/tidak digunakan. Namun, aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual tidak disusutkan.
Masa manfaat, nilai sisa dan metode penyusutan ditinjau secara berkala dengan alasan yang jelas. Masa manfaat, nilai sisa dan metode penyusutan harus direview minimum setiap tanggal neraca (tiap tahun) dengan alasan pol konsumsi atau pemanfaatan ekonomi atas  aset tersebut.
Perubahan pada masa manfaat suatu aktiva dicatat prospektif sebagai perubahan estimasi akuntansi. Sama
Ketika suatu aset tetap terdiri dar  komponen individu yang berbeda metode atau tarif penyusutan yang sesuai, masingmasing komponen dicatat secara terpisah (komponen akuntansi). Sama
revaluasi Umumnya, aset tetap tidak dapat dinila  kembali ke fair value kecuali jika penilaian kembali dilakukan berdasarkan peraturan pemerintah. Aktiva tetap dapat dinilai kembali untuk fair value jika semua item di kelas yang sama dinilai kembali pada waktu yang sama dan revaluasi disimpan up-to-date.
Impairment Tidak ada panduan khusus tentang apakah kompensasi atas kerugian atau penurunan nilai dapat di-offset terhadap nilai tercatat aktiva yang hilang atau penurunan nilai. Kompensasi atas kerugian atau penurunan nilai tidak dapat offset terhadap nilai tercatat aktiva yang hilang atau turun.
Disposal Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian atau pelepasan suatu aktiva tetap diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi Sama

 

Revaluasi aset tetap

PMK 79 tahun 2008 tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap untuk Tujuan Pajak Penghasilan memiliki perbedaan yang cukup pokok dengan PSAK 16 tahun 2007. Perbedaan tersebut terdapat dalam hal aturan mengenai mekanisme revaluasi aset, yang antara lain revaluasi aset harus melalui izin dari Direktur Jenderal Pajak. Beberapa perbedaan lain dapat dikumpulkan sebagai berikut:

Aturan Menurut PMK 79 tahun 2008 Aturan Menurut PSAK 16
Penilaian kembali aset tetap Perusahaan dilakukan terhadap :

a.  Seluruh aset tetap berwujud, termasuk tanah yang berstatus hak milik atau hak guna bangunan; atau

b. seluruh aset tetap berwujud tidak termasuk tanah, yang terletak atau berada di Indonesia, dimiliki, dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek Pajak (Pasal 3 ayat 1);

Revaluasi yang dilakukan pada sekelompok aset dengan kegunaan yang serupa dilaksanakan secara bersamaan (paragraf 36)
Penilaian kembali aset tetap perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dilakukan kembali sebelum lewat jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak penilaian kembali aset tetap perusahaan terakhir yang dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini (Pasal 3 ayat 2); Frekuensi pelaksanaan revaluasi sendiri tergantung pada perubahan niali wajar suatu aset. Jika nilai wajar yang tercatat berbeda secara material dengan nilai revaluasi, maka revaluasi lanjutan perlu dilaksanakan. Untuk aset tetap yang mempunyai perubahan nilai wajar secara fluktuatif dan sifatnya signifikan, revaluasi dapat dilaksanakan tiap tahun. Sedangkan untuk beberapa aset lain yang tidak mengalami perubahan secara fluktuatif dan signifikan, revaluasi tidak perlu dilaksanakan setiap tahun. Untuk aset seperti itu revaluasi dapat dilakukan setiap tiga tahun atau lima tahun. (Paragraf 34)
Selisih lebih penilaian kembali aset tetap perusahaan di atas nilai sisa buku komersial semula setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 harus dibukukan dalam neraca komersial pada perkiraan modal dengan nama “Selisih Lebih Penilaian Kembali Aset Tetap Perusahaan Tanggal ……………… “ (Pasal 9 ayat 1); Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan tersebut langsung dikredit ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun, jika revaluasi tersebut merupakan revaluasi lanjutan setelah revaluasi pertama maka kenaikan atas revaluasi harus diakui dalam laporan laba rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang pernah diakui sebelumnya dalam laporan laba rugi.

Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut diakui dalam laporan laba rugi. Namun, penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebit ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit surplus revaluasi untuk aset tersebut.

Perbedaan aturan dalam perhitungan pajak menurut akuntansi dan pajak telah diantisipasi sendiri oleh pemerintah, yaitu dengan adanya peraturan mengenai rekonsiliasi fiskal, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 138 tahun 2000.

 

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 486/KMK.03/2002 tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan untuk Tujuan Perpajakan, diatur bahwa :

1. Pasal 9 ayat (1), selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku komersial semula setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) harus dibukukan dalam neraca komersial pada perkiraan modal dengan nama “Selisih Lebih Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan”

2. Pasal 9 ayat (2), pemberian saham bonus atau pencatatan tambahan nilai nominal saham tanpa penyetoran yang berasal dari kapitalisasi selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan, sampai dengan sebesar selisih lebih penilaian kembali secara fiskal tersebut dalam Pasal 5 ayat (1), bukan merupakan Objek Pajak.

3. Pasal 9 ayat (3), dalam hal selisih lebih penilaian kembali secara fiskal sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) lebih besar daripada selisih lebih penilaian kembali secara komersial sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pemberian saham bonus atau pencatatan tambahan nilai nominal saham tanpa penyetoran yang bukan merupakan Objek Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), hanya sampai dengan sebesar selisih penilaian kembali secara komersial.

Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas :

1. Pencatatan “Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan” yang berasal dari “Selisih Lebih Penilaian Kembali Aktiva Tetap” merupakan kewajiban perusahaan untuk memenuhi ketentuan dalam PSAK No. 40

2. Dalam hal PT ABC dan anak-anak perusahaannya melakukan penilaian kembali aktiva tetap (revaluasi aktiva) untuk tujuan perpajakan, jika terdapat selisih lebih karena penilaian kembali aktiva maka selisih tersebut merupakan Objek Pajak. Dalam peraturan perpajakan, anak perusahaan merupakan entitas sendiri yang terpisah dari induk perusahaan sehingga penghasilan/keuntungan anak perusahaan dicatat dalam laporan keuangan masing-masing. Dalam hal selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap anak perusahaan yang dilakukan untuk tujuan perpajakan selanjutnya dikapitalisasi sebagai tambahan modal disetor, maka selisih lebih tersebut merupakan saham bonus kepada pemegang saham sebesar persentase penyetoran pada anak perusahaan. Sepanjang pemberian saham bonus atau tambahan modal tanpa penyetoran yang berasal dari kapitalisasi selisih lebih revaluasi aktiva tetap tersebut tidak melebihi selisih lebih revaluasi secara fiskal, maka pemberian saham bonus tersebut bukan merupakan Objek Pajak atau pembayaran dividen. Dengan demikian, saham bonus atau tambahan modal yang berasal dari kapitalisasi selisih lebih revaluasi aktiva tetap anak perusahaan secara fiskal bukan merupakan Objek Pajak Penghasilan ataupun pembayaran dividen bagi pemegang saham.

Dalam hal di kemudian hari, pemegang saham mengalihkan/menjual sahamnya, maka keuntungan (capital gain) atau penghasilan yang diterima oleh pemegang saham atas penjualan atau pengalihan saham bonus tersebut kepada pihak ketiga merupakan Objek Pajak Penghasilan yang harus diakui pemegang saham pada tahun pajak saham bonus tersebut dialihkan atau dijua

Iklan

KONSEP ASET TETAP

Aset tetap adalah aset berujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan.

Karakteristik aset tetap sebagai berikut:

  1. Dimiliki perusahaan untuk digunakan (bukan barang dagangan)
  2. Dimiliki untuk digunakan dalam operasi perusahaan yang utama (bukan investasi jangka panjang)
  3. Dimiliki untuk digunakan dalam jangka waktu lebih dari satu siklus operasi perusahaan (bukan perlengkapan)
  4. Memiliki nilai yang relatif tinggi

Dikarenakan memiliki nilai yang tinggi, penggunaan yang relatif lama dan menjadi alat utama perusahaan menghasilkan revenue, maka investasi dalam aset tetap (Capital Budgeting) harus diperhitungkan dengan matang.

Klasifikasi ASET TETAP

Umumnya aset tetap dibagi dalam empat kelompok, yaitu:

  1. Tanah, seperti tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya gedung perusahaan.
  2. Perbaikan Tanah, seperti jalan diseputar lokasi perusahaan yang dibangun perusahaan, tempat parkir, pagar, dan saluran air bawah tanah.
  3. Gedung, seperti gedung yang digunakan untuk kantor, toko, pabrik, dan gudang.
  4. Peralatan, seperti peralatan kantor, peralatan pabrik, mesin-mesin, kendaraan, dan meubel.

PENGELUARAN-PENGELUARAN MODAL DAN PENDAPATAN

Perlakuan akuntansi terhadap pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan perolehan dan penggunaan aset tetap dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Capital expenditure/pengeluaran modal

Merupakan pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh suatu manfaat yang akan dirasakan lebih dari satu periode akuntansi dan akan dicatat dalam rekening aset (dikapitalisasi).

  1. Revenue expenditure/pengeluaran pendapatan

Merupakan pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh suatu manfaat yang hanya dirasakan dalam periode akuntansi yang bersangkutan dan dicatat dalam rekening biaya.

PRINSIP PENILAIAN ASET TETAP BERUJUD

ASET TETAP DINYATAKAN SEBESAR NILAI BUKU YAITU HARGA PEROLEHAN ASET TETAP TERSEBUT DIKURANGI DENGAN AKUMULASI PENYUSUTANNYA

Harga perolehan (acquisition cost) aset tetap meliputi jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh aset tetap tersebut.

 

Nilai buku aset tetap adalah harga perolehan aset tetap dikurangi dengan akumulasi depresiasi/deplesi aset tetap tersebut

 

Aset tetap yang dapat diganti dengan aset sejenis, penyusutannya disebut depresiasi. Penyusutan sumber alam disebut deplesi, sedangkan penyusutan aset tidak berwujud disebut amortisasi.

 

CARA-CARA PEROLEHAN ASET TETAP

  1. Pembelian Tunai
  2. Pembelian Angsuran
  3. Ditukar dengan Surat-surat Berharga
  4. Ditukar dengan Aset Tetap yang Lain
  1. Pertukaran aset tetap yang tidak sejenis
  2. Pertukaran aset tetap yang sejenis
  1. Diperoleh dari Hadiah/Donasi
  2. Aset yang Dibuat Sendiri

HARGA PEROLEHAN ASET TETAP BERUJUD

 

Aset tetap harus dicatat sebesar harga perolehannya.

 

 

Harga perolehan adalah harga beli ditambah dengan semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan aset tersebut sampai aset siap untuk digunakan

 

Aset tetap berujud, termasuk:

  1. Tanah
  2. Bangunan/Gedung
  3. Mesin dan Alat-alat
  4. Alat-alat Kerja
  5. Pattern dan Dies/Cetakan
  6. Perabot/Mebelair dan Alat-alat Kantor
  7. Kendaraan
  8. Tempat Barang yang Dapat Dikembalikan/Returnable Container

 

BIAYA-BIAYA SELAMA MASA PENGGUNAAN ASET TETAP

  1. Reparasi dan Pemeliharaan
  2. Penggantian
  3. Perbaikan/betterment/improvement
  4. Penambahan
  5. Penyusunan Kembali Aset Tetap/Rearrangement

PEMBERHENTIAN ASET TETAP

Aset tetap bisa dihentikan penggunaannya dengan cara:

  1. Dijual,
  2. Ditukarkan, atau
  3. Rusak

 

Pada saat aset tetap diberhentikan dari pemakaian

  1. semua rekening yang berhubungan dengan aset tetap tersebut dihapuskan
  2. apabila aset tetap tersebut dijual, maka selisih harga jual dengan nilai buku atau residu dicatat sebagai laba atau rugi.

by Fajri Nuryono

 

 

Download Ebook Intermediete Accounting Kieso Versi IFRS

Selamat pagi,..

bagi rekan yang mencari buku akuntansi menengah karangan kieso bisa di download disini. Demi menghargai ilmu pengetahuan, silakan rekan beli buku aslinya yaaa…

Link Download: http://www.4shared.com/rar/SI7AsLie/materi_kieso_intrmediete.html

KAS (Kas Kecil)

Waz up bro, bagi yang baru nagnkring kesini met gabung aja yah. Ni sebenernya sore yang panas buat belajar n ngantuk (hoaaaam… T.Tv) tapi daripada gue bingung gak ngapa2in mending gue bikin postingan pertama deh buat di sesi AKM ini. sumpah gilaaa.. gue dari seminggu kemarin menggelandang di ruang jurusan akuntans belum dapet hasli juga buat revisi skripsi gue ni. Alhasil, akhirnya nganggur gak da kerjaan,hwaaaaahh..

Ditengah kesadisan cuaca sore ini gue Cuma mo bagi elmu ni masalah kas, syukur2 nyangkut hehehe…siaaaap…!. Kalo kata PSAK jadul sih seinget gue, kas adalah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan. Biasanya nih ye, kas tu bermacam spesies yaitu uang kertas, uang logam, cek belum disetor, de es be. Biasanya kas tu cepet banget dikonversiin jadi asset lain misal membeli nasi padang lauknya kikil dengan sambal banyak ditambah kuah rendang dengan kas, TUNAI (maaf, contoh ngawur..^^). Kas dalam perusahaan kudu diatur, gak boleh kebanyakan gak boleh kecekakan jadi kudu mencerminkan konsep 3E.

Selain itu, sifat kas sangat sensitif, gue mo berbagi pengalaman ni pas kerja parttime di Bursa Kampus listirk mati+komputer kasir wafat = manual tansaksi. Pas gue menjabat sebagai penjaga kas kecil, gue kudu ngitung rekapan dari kasir antara kas diterima sama kas dibuku. Sat-sit-set.. mereka ngitung gue yang nyelow tinggal nanda tangan buku rekap, cerita selesai. Besok paginya pas gue liburan ke Bandung ma anak2 gue di telpon ma Bos, “tuuut.. Halo yan, Priwe? Kas kemarin selisih 900.000?”. Jreeeeng .. gue gak tenang dah liburan, temen2 pada ktawa enjoy gue nangis tersedu, ingin kuteriakan,” adualahieuh pak kuwu….,dosa naon aink..!!” akhirnya gue balik ke pewete tercinta, gue konfirm ma kasir kemarin ternyata dia ngaku salah nulis manual, harus nya 100.000 malah dia tulis 1.000.000. ahaha.. gue nyante lagi, emang sih salah gue yang tanda tangan bukti tanpa cek ulang , maklum pegawai baru ,hehehe.. tapi karena kejadian ntu, gue kapok jadi orang teledor. Kalo di perusahaan MNC gue bisa di cincang, tapi setelah ntu gua jadi orang teliti nih bos.

Kembali ke topik, gue disini bakal konsen dulu di kas kecil. Kas kecil adalah kas yang di buat untuk kegiatan sehari2 perusahaan untuk pengeluaran2 yang jumlahnya relativ kecil dan tak ekonomis bila dibayar dengan cek. Ada 2 metode untuk mencatat kas kecil yaitu imprest dan fluktuative. Gue bahas metode imprest aja deh karena menurut gue ni metode gak ribet tapi bagus n gua bahas dalam bentuk contoh dibawah.

PT Skarepe Nyonk punya transaksi menyangkut kas kecil ni dalam sebulan. Ni gue bahas dalam bentuk jurnal aja yah:

15 Des : membentuk dana kas kecil Rp 4.000.000

Petty Cash 4.000.000

Cash 4.000.000

Transaksi Rutin I:

16 Des : dibayar biaya rapat manajer Rp 300.000 (adm.expenses)

18 Des: dibayar ganti uang tukang becak, ojek gendong, dan tol Rp 500.000(adm.expenses)

19 Des : ngasi utang ke karyawan yang bokek Rp 300.000

20 Des: membeli persediaan kantor Rp 250.000

22 Des : Dilakukan Pengisian kembali Kas Kecil

Nah, untuk transaksi 24 Des ni, semua transaksi sebelumnya di balik ke akun Petty cash senilai pengeluaran rutin yaitu:

Administrasi Expenses 800.000

Receiveble Exp 300.000

Supplies Exp 250.000

Petty Cash 1.350.000

Transaksi Rutin II:

26 Des: dibayar biaya rapat Rp 800.000 (adm.expenses)

29 Des : dibayar Pejalanan dinas 500.000 (adm.expenses)

5 Jan : dibayar biaya pembelian perlengkapan kantor 100.000

6 Jan : pengisian ulang kas kecil

Wah, untuk yang melewati bulan dan tahun ini dilakukan dulu penyesuaian dengan membalik dari tanggal 26 pe 29 Des, Jurnalnya kaya dibawah ni:

Petty Cash 800.000

Administrasi Expenses 800.000

Trus pada tanggal 6 Jan pengisian ulang kembali dilakukan dengan jurnal seperti ni:

Administrasi Expenses 800.000

Supplies Exp 100.000

Petty Cash 900.000

Selesai deh, nah jadi pas lewat periode bulan atau tahun tu si akun yang termasuk transaksi bulan sebelumnya di balik dulu agar gak terjadi perkiraan ganda and setelah ntu baru di balik lagi lengkap dengan transaksi bulan atau tahun sekarang deh pas pengisiannya. Kurang lebih seperti ntu, kalo ada yang ditanyakan silakan comment atau buka buku lagi, hehehe.. rajin baca cuy, jangan pesbukan mullu… 😀